Religion and culture are two different things that really necessary for human being in their life. Religion is necessary needed for people represent their disposition as God’s weak creature. Culture is necessary needed for people indicating human as ‘thinking’ creature that always think and do some efforts in solving and living their life. But then a problem exist, a great question always appear related to those two things. That is, which one appeared and grew first in human being life, religion or culture? This question had been forced a lot of scientist to study deeply and finally had been made a lot of theories related to the relationship between religion and culture. The answer will be really determined culture and religion’s position in priority needed of human being.
One of the theories by Cliffort Geertz mentioned that religion is a part of a cultural system. It means that culture should be existed first and created religion as one of its symbol system in human life. His theory came from his interpretation method for his examinations that applied in Javanese religion, Balinese belief and Moslem in Maroko. This theory also influenced by Weber’s thinking.
Other theory opposite Geertz, disagree with him. Mukti Ali, Faisal Ismail and others believe that there are two kinds of religion in world. These are earth religion and God religion (samawi religion). They believed that God religion appeared a long time ago before human being thinking for the first time and even live on earth. And earth religion existed as the result of human creation, intention and work. According to their thinking, actually earth religion only mentioned as a sacred culture not as a religion. It means that earth religion is equal with the culture. On the other hand, they mentioned that God religion should not included as a part of cultural system, because it can create its own cultural system.
From the two contradictive theories above, the conclusion is religion and culture are two things that can not be separated from human being in their life and really relative. Talking about religion and culture has no limit and could be different depend on perspective. For the substance, religion and culture needed of each other. Religion needs cultural process to be known by human and culture needs religion for coloring human being’s activities and reaching their purpose in this life.
Keimanan bagaikan ombak di lautan. Tidak pernah dalam kondisi yang sama setiap waktunya. Keimanan itu terkadang pasang dan terkadang surut. Ketika keimanan itu sedang pasang, maka seolah-olah seorang hamba berapa pada posisi terdekat dengan Tuhan-nya. Sedangkan sekali waktu jika keimanan itu surut, seorang hamba tidak berarti sedang berada dalam posisi yang jauh dari Tuhan-nya, melainkan seorang hamba hanya sedang lupa akan kehambaannya. Surut dan pasangnya keimanan seorang hamba menandakan adanya sebuah dialektika dalam iman sehingga keimanan itu harus senantiasa diperbaiki.
Dalam upaya perbaikan keimanan secara terus-menerus, maka seorang hamba memerlukan hamba yang lain untuk senantiasa mengingatkan, saling menasehati dalam hal kebaikan dan peningkatan keimanan. Hal tersebut juga menggambarkan bagaimana semestinya interaksi seorang hamba dengan hamba lainnya, interaksi kemanusiaannya. Disitulah letaknya urgensi dakwah yaitu nasehat-menasehati dalam hal kebaikan.
Salah satu metode dalam dakwah yang paling indah dan tidak terkesan menggurui adalah dengan cara berdakwah melalui tulisan. Melalui tulisan, dakwah dapat disampaikan secara halus dan tidak terkesan menghakimi. Hanya hamba-hamba Tuhan yang merasa benar-benar memerlukan pencerahan yang akan memilih untuk membaca tulisan-tulisan dakwah. Dengan demikian, dakwah melalui tulisan terkesan lebih mengena dan penuh makna bagi mereka.
Fitrah Manusia adalah Kebaikan
Pada hakekatnya, setiap hamba memiliki kecenderungan untuk berada dalam kebaikan. Itulah yang disebut sebagai fitrah. Setiap manusia diciptakan dengan fitrah kesucian. Dengan demikian, setiap manusia berkesempatan untuk menerima cahaya Tuhan yang senantiasa menuntun kepada kebaikan. Sebagaimana firman Allah:
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah yang lurus, fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap penciptaan di atas fitrah itu. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Maka orang-orang yang ingin kembali kepada-Nya, dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah; yaitu orang-orang yang telah memecah-belah agama mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Qs. Ar-Rum [30]: 30-32)
Dengan asumsi bahwa semua umat manusia senantiasa memiliki kecenderungan dalam kebaikan, hal tersebut berarti setiap manusia memiliki keinginan untuk berlaku lurus, jujur, baik dan benar. Setiap manusia berpotensi untuk memainkan peran kehambaanya dan kemanusiannya dalam kefitrahan. Namun secara manusiawi, berbagai faktor dapat saja mengalihkan manusia dari potensi kefitrahan tersebut. Selain itu, cahaya kefitrahan tersebut terletak jauh di dalam hati nurani setiap manusia, sehingga terkadang menjadi sulit untuk ditemukan. Cahaya fitrah dalam hati nurani manusia itulah yang disebut dengan kesadaran berketuhanan.
Dalam konteks ini, menurut Budi Munawar-Rachman, kesadaran berketuhanan pada turunannya akan membawa konsekuensi pada kesadaran moral dan kesadaran sosialnya. Kesadaran moral yang baik berkonsekuensi kepada baiknya aktualisasi peran kehambaannya. Sedangkan kesadaran sosial yang baik berkonsekuensi kepada aktualisasi peran kemanusiaannya. Lebih jauh mengenai hal tersebut, Rasullullah Saw pernah bersabda dalam salah satu haditsnya:
“Setiap anak yang dilahirkan adalah dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H. R. Bukhari dan Abu Hurayrah Ra.)
Nasihat-menasihati dalam Kebajikan
Tuhan menciptakan manusia hakikatnya dengan kecenderungan untuk menjadi baik, berkesadaran ketuhanan dan selalu berorientasi kepada kebenaran, jika manusia mampu bertindak berdasarkan kesadaran hati nurani. Namun, kecenderungan itu tidak selamanya menjamin manusia untuk senantiasa mengingat Tuhan-nya, senantiasa berbuat baik terhadap sesamanya dan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Hal ini karena kesadaran berketuhanan sangat jauh letaknya di dalam hati nurani manusia, sehingga terkadang manusia tak mampu untuk mendengarkan tuntunannya. Manusia dengan segala ketidaksempurnaannya sebagai makhluk Tuhan terkadang lalai dan lupa sehingga seringkali tak mendengarkan kesadaran hati nurani untuk tetap menjadi baik. Berdasarkan hal tersebut, maka upaya nasehat-menasehati dalam kebaikan menjadi sangat urgen.
Manusia secara individu terkadang tak mampu mengingatkan dirinya sendiri, sehingga sangat besar peran manusia lainnya untuk senantiasa mengingatkannya agar tetap berada dalam kebaikan. Inilah bentuk dari dakwah, yaitu saling mengingatkan, memberi masukan, menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Untuk itu, manusia juga dianjurkan untuk berkumpul dengan manusia yang juga mampu untuk saling mengingatkan, agar senantiasa berada dalam kefitrahan. Demikianlah salah satu cara manusia dalam menjaga kefitrahannya.
Terkait dengan kewajiban manusia untuk saling mengingatkan sesamanya dalam hal kebaikan dan kebenaran, Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Qs. An-Nahl: 125)
Firman Allah tersebut menerangkan mengenai cara dalam menyampaikan nasehat dan mengingatkan sesama manusia. Jika seorang hamba ingin memberikan nasihat kepada sesamanya, maka berikanlah nasihat melalui hikmah dan pelajaran yang baik. Sedangkan jika seorang hamba ingin menegur dan mengingatkan sesamanya yang sedang berada pada jalan yang menyimpang dari kebaikan dan kebenaran, maka lakukanlah dengan cara-cara yang baik pula. Lebih lanjut Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-Imran: 104)
Adapun hikmah dan pelajaran yang baik kepada sesama dapat berupa anjuran untuk melakukan suatu kebajikan dan larangan untuk melakukan suatu kemungkaran. Upaya nasihat-menasihati dalam kebajikan tersebut merupakan kewajiban dari setiap hamba Tuhan agar senantiasa berada dalam kebaikan. Dan berdasarkan firman Allah Swt di atas, manusia-manusia yang demikian adalah manusia yang beruntung di dunia dan di akhirat.
Berdakwah dengan Pena
Nasihat-menasihati antar sesama manusia dapat dilakukan dengan berbagai cara. Upaya ini secara populis disebut dengan dakwah. Namun, ketika menyinggung kata dakwah, maka stereotype yang tercipta adalah ceramah, tabligh, khutbah atau yang sejenisnya. Padahal jika diinterpretasikan dakwah mengandung makna yang sangat luas.
Substansi dari dakwah sebenarnya adalah menyampaikan, nasihat-menasihati, menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang baik serta mengingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang munkar. Dengan demikian, akan amat sempit pemahamannya jika dakwah hanya diidentikkan dengan hal-hal yang disebutkan di atas. Padahal tanpa disadari ada banyak hal yang telah dilakukan manusia dengan substansi di atas yang mengandung nilai-nilai dakwah sehingga dapat dianggap sebagai dakwah, misalnya siaran radio, iklan di tv, film-film yang mengandung nilai-nilai religius, slogan-slogan Islami di baju, stiker dan tulisan-tulisan dalam berbagai bentuk karya tulis.
Salah satu bentuk dakwah yang paling menyentuh adalah dakwah melalui karya tulis yang dapat berbentuk cerita non-fiksi, karya tulis ilmiah, puisi dan yang sejenis. Mengapa demikian? Menurut Asep. S. Muhtadi, secara sadar atau tidak ternyata lebih banyak audience (pembaca) yang tersentuh karena membaca dakwah persuasif yang disajikan dalam bentuk buku. Dakwah model ini sangat halus dan persuasif. Secara tidak sadar audience akan dibawa untuk membentuk opsi-opsi tertentu dalam fikirannya sesuai dengan tujuan penulis.
Ada begitu banyak contoh bentuk-bentuk dakwah lewat tulisan yang muatannya sangat mempengaruhi dan akan diingat pembacanya. Sebagai contoh, sastra ‘Di Bawah Lindungan Ka’Bah’ yang ditulis oleh Hamka, dimana nilai-nilai religius keislamannya sangat mempengaruhi para pembacanya dan sang penulis pun dikenal hingga kini, meskipun ia telah tiada. Contoh lain, sebut saja karya fenomenal Habbiburrahman El-Sirazi penulis novel ‘Ayat-ayat Cinta’, yang mampu membuat pembacanya menangis tersedu-sedu karena kehalusan dan kedalaman hikmahnya. Tentunya masih banyak lagi karya-karya fenomenal dari dakwah melalui tulisan yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Sebuah fakta tak terbantahkan mengenai keunggulan berdakwah melalui karya tulis adalah umur eksistensinya yang panjang. Dalam artian, selama orang-orang masih membaca dan menyimpan buku tersebut, maka selama itulah nilai-nilai dakwah yang terkandung di dalamnya akan tetap diingat dan dapat mempengaruhi pembaca. Selain itu, menurut beberapa riset yang pernah dilakukan dalam ilmu komunikasi menunjukkan bahwa efek psikologis dakwah melalui tulisan lebih besar dan berpeluang untuk mempengaruhi perilaku pembaca.
Berdakwah melalui tulisan juga menyajikan nilai-nilai dakwah dalam bentuk penyajian pemikiran yang lebih rapi dan sistematis. Sehingga jika pada pembacaan yang pertama pembaca ternyata tidak mampu memahami pemikiran penulis, maka si pembaca dapat mengulanginya berkali-kali. Pembaca juga tidak akan merasa dihakimi melalui dakwah ini, melainkan diberikan opsi untuk pencerahan yang diharapkan oleh pembaca.
Dakwah melalui tulisan memiliki tolak ukur kesuksesan berupa pemahaman pembaca terhadap pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan dan lebih jauh mampu mengintervensi pemikiran pembaca sesuai dengan tujuan yang diharapkan penulis. Dengan demikian, diperlukan kepiawaian penulis untuk dapat menggunakan pilihan kata yang mampu menyampaikan secara lugas pesan dan nilai-nilai dakwah yang ingin disampaikan. Dan tentunya pesan yang disampaikan dalam tulisan tersebut tidak kelur dari konteks dan nilai-nilai keislaman. Selain itu, tentunya penulis harus memiliki pengetahuan mumpuni mengenai keislaman agar apa yang disampaikan adalah nilai-nilai dakwah yang akurat dan tidak menimbulkan ambiguitas serta menyesatkan pembacanya.
Dengan berbagai kelebihan dakwah melalui karya tulis dan dengan ditambah kepiawaian penulis dalam mengolah kata sebagai alat penyampai pesan, dakwah melalui tulisan diharapkan dapat sangat efektif dalam upaya nasihat-menasihati dalam kebajikan dan mengingatkan manusia kepada fitrahnya dalam kebaikan. Dakwah yang baik adalah dakwah yang dapat disampaikan secara persuasif, penuh makna dan mendalam, sehingga dapat senantiasa diingat dan dipahami, bahkan diaktualisasikan oleh pembacanya.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dakwah terbaik adalah dengan perbuatan, memberi contoh untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk akan ebih efektif untuk dapat dijadikan contoh oleh orang lain. Oleh karena itu, sepiawai dan sehebat apapun seseorang melakukan dakwah dalam bentuk tulisan, harus juga disertai dengan perilaku dan moralitas yang baik dan dapat dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang terpenting dalam berdakwah tidak hanya menasihati atau mengingatkan orang lain, tetapi yang lebih utama adalah mengingatkan diri sendiri untuk selalu mendengarkan hati nurani dan senantiasa mengingat kefitrahan diri. Sebagaimana firman Allah Swt berikut ini:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Ali-Imran: 110).
Aku tidak pernah menyangka hingga aku benar-benar merasakannya sendiri bahwa kebencian terhadap orang lain akan menghancurkan diri sendiri. Dan hari ini aku benar-benar merasa hancur berkeping-keping…..
Kukira disakiti oleh orang lain adalah hal yang paling menyakitkan di muka bumi ini. Karena rasa sakit itu, aku merasa berhak untuk membalas orang lain dengan rasa sakit yang sama,,,bahkan lebih,,,dari yang aku rasakan. Aku menjadi seorang pendendam, yang memelihara sakit hati dan memendam kebencian tanpa aku sadari. Dari sudut hati terkelam itu, aku kemudian mendapat kekuatan yang besar untuk menyakiti, mengaktualisasikan rasa benci yang tumbuh subur dalam hati. Aku kira semua akan menjadi lebih baik ketika aku mampu membalas dan membuat orang yang pernah menyakitiku merasakan rasa sakit yang sama. Aku pikir rasa sakit hatiku akan terobati. Dendamku akan terbayar lunas. Tapi,,,,,,Tuhan Maha Besar….dan aku salah total.
Ternyata, kawan, menyakiti orang lain itu menjadikan hatiku lebih sakit, semuanya lebih buruk, dan tentunya,,,aku rasa Tuhan menjadi murka padaku. Astaghfirullah…..
Aku tertegun merasakan sakit yang lebih parah dari pada ketika aku disakiti oleh orang lain. Aku hancur seketika aku mengaktualisasikan kebencian dan dendam itu. Aku merasa hampa ketika mengetahui orang yang kubenci merasa tersakiti. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia. Dan aku merasa kebencian Tuhan atasku sangat besar.
Jangan pernah membenci kawan….jangan pernah….apapun alasannya… L
Sekarang, setelah seluruh kebencian itu mengejewantah menjadi ungkapan laku balas dendam dan menyakiti, yang tersisa hanyalah rasa bersalah. Rasa bersalah yang sangat dalam. Aku hanya dapat menatapi puing-puing hatiku sendiri yang hancur berkeping-keping. Seketika aku merasa manusia dan kemanusiaan di dalam diriku telah mati. Tanpa sadar, aku menangis, menangis untuk orang yang aku sakiti, mereka yang aku balas perlakuan buruknya, mereka yang juga akan merasakan sakit jika tersakiti, mereka yang sama denganku….
Akhirnya yang ditinggalkan oleh dendam hanyalah rasa pahit dan air mata. Akhirnya yang ditinggalkan oleh perlakuan buruk terhadap orang lain hanyalah permusuhan, renggangnya hubungan, retaknya persaudaraan, hancurnya silaturahmi, kesedihan dan akhirnya kesepian. Sungguh, nyatanya kita tak akan pernah mampu hidup sendirian. Kita membutuhkan orang lain, bahkan orang-orang yang membenci kita agar kita dapat belajar banyak hal dari mereka semua.
Jangan pernah membenci kawan…..jangan pernah…..apapun alasannya… L
Kebencian tidak akan pernah menghancurkan orang lain, selain terlebih dahulu menghancurkan diri sendiri. Kebencian yang kita tanam kepada orang lain dan kita tunaikan dalam bentuk balas dendam tidak akan pernah menawarkan kebebasan dari rasa sakit. Kebencian itu hanya akan menawarkan rasa sakit yang lebih buruk, luka yang lebih parah, kehilangan yang lebih besar, kesedihan yang lebih dalam, dan rasa bersalah. Rasa benci itu membatasi gerak kemanusiaan kita dan mematikan hati.
Aku sadari itu hari ini. Ketika kebencian itu memuncak, dendam telah membara, kesabaran telah sirnah seiring hilangnya rasa kemanusiaan, maka aku berubah menjadi jahat, sangat jahat pada orang yang pernah menyakitiku. Kata maaf tak akan mungkin menghapuskan kejahatanku hari ini. Hari ini aku hanya bisa terdiam, menyesali karena tak mampu menahan diri untuk menjadi jahat dan akhirnya menghancurkan diriku sendiri. Hari ini aku sadari sepenuhnya bahwa tak seorangpun ingin disakiti, diperlakukan buruk. Setiap orang berhak untuk mendapatkan kebaikan dan kemurahan hati. Tak seorangpun pantas untuk disakiti, kawan….
Aku hancur, kawan….hancur bersama kebencian. Dan aku tak tahu bagaimana harus memperbaiki ini semua dan memulai dari awal. Kata maaf tak cukup untuk memperbaiki semuanya. Aku saja tak mampu memaafkan diriku sendiri atas kebencian ini, apalagi orang yang aku benci. Dari kesalahan ini aku belajar dan berjanji dalam hati untuk tidak ingin membenci lagi.
Dan pesanku untukmu kawan, jangan pernah membenci….jangan pernah membenci…..jangan pernah, apapun alasannya! L
Pada tanggal 5 Februari 1947 atau bertepatan dengan tanggal 14 Rabiul awal 1366 H, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan oleh pemuda Lafran Pane dan 17 orang rekannya di Yogyakarta. Berdirinnya HMI pada masa itu tidak terlepas dari kondisi umat dan bangsa yang sedang pada masa transisi yaitu awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara garis besar, Agussalim Sitompul mengungkapkan terdapat dua factor utama yang melatarbelakangi berdirinya HMI yaitu, penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan serta adanya kesenjangan dan kejumudan umat dalam pengetahuan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Dari kedua factor yang melatarbelakangi berdirinya HMI tersebut, dapat dilihat bahwa hakikatnya keberadaan HMI membawa misi keumatan dan misi kebangsaan yaitu untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi umat Islam pada masa itu serta turut meneguhkan kedaulatan bangsa pasca proklamasi kemerdekaan. Hingga kini, keberadaan HMI di Indonesia masih tetap sama yaitu mengemban misi keumatan dan kebangsaan dengan tantangan yang berbeda yaitu globalisasi, tantangan abad 21.
Latar Belakang Singkat Berdirinya HMI
Keberadaan HMI yang telah hampir enam puluh lima tahun di Indonesia, bukanlah sebuah perjalanan singkat. Usia keberadaan tersebut jika diibaratkan dengan umur biologis manusia merupakan umur yang telah sangat matang, telah menempuh berbagai pengalaman hidup, dan dianggap telah berada pada suatu tingkat kebijaksanaan tertentu. Demikian pula keberadaan HMI yang telah lebih dari setengah abad, idealnya menandakan besarnya umur kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya (rahmatan lil alamin) khususnya di Indonesia.
Keberadaan HMI pada awal berdirinya, tidak diragukan lagi, sangat penting artinya bagi sebuah bangsa yang baru saja merintis kemerdekaannya dan berusaha mempertahankan kedaulatannya yang masih labil. Pada masa itu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang baru saja berdaulat, sehingga kedaulatan tersebut masih sangat labil, stabilitas dalam negeri yang masih goyah dan kondisi eksternal bangsa dimana penjajah masih berupaya untuk mengambil tampuk kepemimpinan Indonesia yang baru berdaulat seumur jagung. HMI mengambil peran partisipatif dalam upaya menegakkan marwah bangsa, bahkan turut serta melakukan perjuangan secara fisik melawan pihat-pihak yang ingin menggoyangkan kedaulatan bangsa. Terbukti, pada saat agresi Belanda, HMI turut serta membantu pemerintah untuk melakukan perlawanan dalam berbagai bentuk diantaranya, turun langsung mengangkat senjata, menjadi staff, penerangan dan perhubungan. Selain itu, HMI juga membentuk badan khusus untuk membantu pemerintah dalam upaya menumpas gerakan PKI, melawan agresor-agresor lainnya, hingga mengabaikan pembinaan terhadap internal HMI sendiri. Semua itu dilakukan sebagai upaya nyata HMI untuk merealisasikan misi kebangsaannya.
Sementara itu, pada awal berdirinya HMI juga dihadapkan pada permasalahan umat yang sebenarnya merupakan gejala global dari permasalahan umat Islam dunia. Pada masa itu, umat Islam dapat dikatakan dalam kejumudan, dimana pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman yang minim serta ritual-ritual keagamaan yang dijalankan dengan pemahaman keagamaan yang terbatas. Permasalahan-permasalahan keagamaan pada saat itu semakin kentara terlihat pasca kedaulatan bangsa Indonesia. Penjajahan yang sekian lama terjadi pada bangsa Indonesia menyisakan diantaranya “sekularisme” sebagai salah satu produk dari pendidikan barat. “sekularisme” inilah yang kemudian menjadikan pemahaman keagamaan dan praktek keagamaan umat semakin dangkal. Dalam hal ini, HMI mengambil peran sebagai bagian dari umat Islam yang telah tercerahkan, yang berupaya untuk menjadi kritis dengan membawa pembaharuan-pembaharuan cara berfikir dan menghayati praktek keagamaan dengan lebih baik. Keberadaan HMI diharapkan mampu membebaskan umat dari kejumudan beragama.
Tantangan Abad 21
Saat ini Indonesia telah menjadi bangsa yang cukup mapan pada usia kemerdekaan yang mencapai enam puluh lima tahun. enam puluh lima tahun telah berlalu semenjak kemerdekaan diproklamasikan. Enam puluh lima tahun sudah penjajah meninggalkan bangsa ini. Berbagai upaya telah dilakukan bangsa ini untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan.
Namun penjajahan tak lantas pupus dari bumi Indonesia. Penjajahan itu masih ada meski tidak lagi dalam bentuk fisik. Bentuk penjajahan kali ini lebih kompleks dan tak kasat mata. Penjajahan masa kini adalah bentuk propaganda halus kekuasaan global yang biasa diistilahkan dengan globalisasi, jika bangsa Indonesia tak pandai-pandai menjaga jati dirinya.
Di satu sisi, globalisasi menawarkan kemudahan, kebebasan, alternative baru dan perubahan dalam banyak hal. Jejak keberadaanya dapat terlihat melalui perubahan-perubahan yang diakibatkannya terutama dalam lingkungan, ekonomi, social, budaya dan politik. Salah satu produk globalisasi yang paling jelas adalah perdagangan bebas. Setiap bangsa, mau tidak mau, siap tidak siap harus menghadapi kompetisi terbuka dengan bangsa lainnya, hal ini merupakan konsekuensi dari tidak adanya sekat-sekat yang membatasi kegiatan ekonomi. Globalisasi ini juga ditandai dengan kemajuan yang massive di bidang teknologi informasi dan transportasi.
Namun, di sisi lain, globalisasi juga secara tak disadari membawa perubahan pada aspek social budaya. Pengaruhnya terutama dapat dilihat pada generasi muda bangsa ini. Begitu banyak generasi muda bangsa ini yang lebih bangga menggunakan kebudayaan bangsa lain, bahkan sampai melupakan kebudayaan bangsa sendiri. Proses masuknya kebudayaan bangsa asing tersebut juga merupakan akibat dari semakin mudah dan terbukanya akses interaksi dan persentuhan nilai-nilai budaya antara bangsa satu dengan bangsa lainnya. Dampak lebih lanjut, masuknya budaya asing yang tanpa filter jati diri bangsa sendiri ini akhirnya dapat membentuk sikap materialis, konsumtif, hedonis, pragmatis, dn individualistis.
Sebenarnya, globalisasi tidak selamanya membawa perubahan dalam artian negative. Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas bahwa banyak pula perubahan dalam artian positif yang ditawarkan oleh globalisasi. Globalisasi secara tidak langsung sebenarnya dapat mendorong tumbuhnya sikap mental yang kompetitif, mandiri, disiplin, etos kerja yang tinggi, profesionalisme dan sebagainya. Namun, untuk mampu mengambil manfaat dari globalisasi tersebut diperlukan bangsa yang mampu menjunjung tinggi jati dirinya sendiri serta bersikap bijak dalam menyikapi segala jenis perubahan yang ditawarkan oleh globalisasi. Bangsa Indonesia harus mampu berperan aktif dalam kompetisi global tanpa terhanyut dalam dampak globalisasinya.
Oleh karena itu diperlukan anak bangsa yang berkarakter dan mencintai bangsanya sendiri. Anak bangsa ini merupakan bagian dari generasi muda yang telah tercerahkan serta senantiasa berorientasi pada kemajuan umat dan bangsa. Anak bangsa yang mempunyai integritas agar tidak mudah terpengaruh pada nilai-nilai kebudayaan lain yang dapat melunturkan kebudayaan sendiri. Anak bangsa yang memiliki intelektualitas agar tidak mudah dipengaruhi oleh propaganda asing yang bersifat negative. Anak bangsa yang mampu bersaing secara professional dalam ranah global, yang memiliki keterampilan dan keahlian dalam bidangnya masing-masing. Anak bangsa tersebut adalah generasi muda baik pelajar, mahasiswa maupun pemuda.
Dengan demikian, pada abad ke 21 ini, HMI memiliki peran dan fungsi yang agak berbeda dengan peran dan fungsi yang diembannya pada awal kemerdekaan, namun tetap memiliki misi yang sama yaitu misi keumatan dan kebangsaan. Jika pada awal kemerdekaan , HMI berpartisipasi aktif dalam bentuk perjuangan langsung menghadapi penjajah umat dan bangsa yang nyata secara fisik, maka pada abad ke 21 ini, HMI harus berjuang melawan penjajahan dalam bentuk baru yang tak kasat mata dan lebih kompleks. Kini, HMI harus mampu menegaskan karakteristik perjuangan dan kualitas individu kadernya agar mampu menjadi anak bangsa yang berkarakter, kompetitif dan berpandangan ke depan yang ada mampu menjawab tantangan abad ke 21.
HMI Menjawab Tantangan Abad 21
Dalam perjalanan pasca proklamasi, untuk menyesuaikan dengan konteks keummatan dan kebangsaan saat itu, HMI kembali menegaskan tujuannya sebagaimana yang dirumuskan dalam pasal 4 AD/ART HMI, yaitu: Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Meski berbeda dengan tujuan awal berdirinya HMI dua tahun pasca proklamasi silam, namun tujuan tersebut secara tersirat memiliki benang merah yang sama dan tidak akan berubah karena HMI lahir dari semangat keislaman dan keindonesiaan, yaitu misi keummatan dan kebangsaan. Hal tersebut adalah nafas perjuangan HMI.
Derivasi dari tujuan HMI sebagaimana tersebut di atas, maka terdapat lima kualitas individu yang diharapkan terdapat dalam diri setiap manusia yang beriman, berilmu serta menjalankan amal kemanusiaan. Konsep manusia seperti ini yang di dalam HMI kemudian dikenal dengan lima kualitas insane cita. Lima kualitas insane cita tersebut diantaranya adalah kualitas insane akademis, kualitas insane pencipta, kualitas insane pengabdi, kualitas insane yang bernafaskan Islam, dan kualitas insane yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Kualitas insane akademis adalah individu yang berpendidikan tinggi secara formal, berpengetahuan luas, rasional, objektif, kritis dan ilmiah. Individu tersebut harus mampu secara teoritis dan teknik dalam bidang keilmuan tertentu sesuai dengan prinsip perkembangan. Pribadi individu seperti ini dalam konteks abad ke 21 merupakan pribadi yang professional sehingga mampu bersaing pada bidang yang dikuasainya.
Kualitas insane pencipta adalah individu yang kreatif, independen dan terbuka serta mampu menciptakan dan melihat peluang-peluang baru, didukung dengan kemampuan akademisnya untuk sesuatu yang lebih baik. Dalam menghadapi tantangan abad ke 21, pribadi seperti ini merupakan pribadi yang sangat kompetitif, tidak hanya mengandalkan sesuatu yang biasa tetapi mampu melakukan inovasi terhadap apa yang dikerjakannya.
Kualitas insane pengabdi adalah individu yang mapan secara akademis, mampu berbuat secara maksimal dan mengamalkan ilmu serta kemampuannya untuk membuat lingkungan dan orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Pribadi seperti ini selain memiliki keterampilan, profesionalisme dan sangat kompetitif, ia juga mampu menunjukkan amal baktinya terhadap sesame. Sementara budaya asing yang dibawa oleh globalisasi menawarkan sikap individualistis dan tidak perduli terhadap sesame, seorang individu dengan kualitas insane pengabdi memiliki integritas untuk tetap memegang teguh nilai-nilai kebersamaan dan mementingkan orang lain.
Kualitas insane yang bernafaskan Islam adalah individu dengan kecerdasan intelektual, emosional serta spiritual yang seimbang. Pribadi ini tidak hanya cerdas, berketerampilan, rela beramal dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi juga menjunjung tinggi dan menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi tantangan abad ke 21, pribadi seperti ini jelas akan menjadi pribadi yang unggul, dapat menangkap peluang ditengah arus globalisasi tanpa ikut terhanyut dengan budaya-budaya negative yang dibawa oleh globalisasi itu sendiri.
Kualitas insane yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT adalah individu yang akademis, mampu mencipta, rela mengabdi, menjunjung tinggi serta menerapkan nilai-nilai keislaman serta memiliki jati diri dan integritas pribadi yang mapan. Pribadi ini adalah pribadi yang bertanggung jawab kepada diri sendiri, orang lain, agama serta bangsanya. Dalam menghadapi tantangan abad ke 21, pribadi ini adalah pribadi yang unggul, yang mampu mewarnai, menegaskan jati dirinya di tengah arus globalisasi. Inilah wujud insane paripurna yang senantiasa diharapkan agama dan bangsa, yang tidak hanya baik secara individu, tetapi juga mampu membuat orang lain dan lingkungan sekitarnya menjadi baik.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Suardi Herik (2010: 73) bahwa pada pokoknya insane cita HMI merupakan “man of future”, yaitu pribadi pelopor yang berpandangan jauh ke depan, bersikap terbuka, professional dalam bidangnya dan melakukan upaya-upaya kooperatif untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Jika HMI mampu mengejawantahkan tujuannya yang sempurna secara konsep tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa HMI akan mampu bertahan bahkan menjadi pemenang pada kancah tantangan abad ke 21.